Berenang Bersama Hiu di Jernihnya Perairan Wayag

Kumpulan karst eksotis yang berada di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia. Wayag, siapa yang tidak mengenalnya? Destinasi impian para traveller baik domestik maupun mancanegara. Indonesia mungkin memang pantas disebut sebagai serpihan surga yang tercecer di bumi.

Serpihan surga itu salah satunya terletak di Bumi Papua, Mutiara Hitam dari Timur. Raja Ampat, kepulauan yang menyajikan keindahan bawah laut yang luar biasa. Raja Ampat adalah salah satu destinasi wisata yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, mempesona penikmatnya.

Wayag adalah tujuan utama trip kami ke Raja Ampat ini. Ikon wisata yang dari dulu sangat diimpikan untuk dikunjungi. Bersama 8 orang teman aku mengunjungi Wayag pada hari kedua rangkaian trip Raja Ampat ini. Setelah malamnya menginap di Selpele, suatu desa indah dengan homestay di pinggir pantai berpasir putih yang cantik dan tenang di Pulau Waigeo, hari kedua ini kami meluncur ke Wayag.

Jarak Wayag dari Pulau Waigeo tempat kami menginap adalah sekitar 3 km atau 1,5 jam perjalanan. Tujuan pertama adalah Puncak Wayag 1 atau biasa disebut sebagai Puncak Karang. Pulau Wayag berada di wilayah Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Pulau ini terdiri dari gugusan pulau-pulau karst terjal berbentuk seperti cendawan yang bermunculan dari dalam laut.

Untuk dapat sampai ke Pulau Wayag, kita dapat menyewa kapal motor dari Sorong. Perjalanan ke tempat ini akan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Memang tidak mudah untuk dapat menikmati wisata Pulau Wayag di Raja Ampat.

Puncak Wayag 1 atau Puncak Karang harus kita daki terlebih dahulu selama sekitar 30 menit untuk sampai ke puncaknya. Pemandangan dari puncak inilah yang sebenarnya dicari semua traveller yang datang ke sini. Medan dari Puncak Karang ini adalah batuan karst, tentu saja karena ini adalah gugusan kepulauan karst.

DSC_0239Wayag2

Karena biasa didaki, batu karang di sepanjang trek yang dilalui juga tidak begitu tajam, namun bukan berarti minim tantangan. Kita harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset atau tergelincir ke bawah. Ada beberapa bagian yang sangat terjal dan banyak akar pepohonan melintang dimana-mana. Dan sebelum mencapai puncak pun kita masih harus berjuang, memanjat bebatuan dengan medan hampir 90 derajat.

DSC_0171Wayag1

30 menit berlalu, dan kita sudah berdiri di Puncak Wayag 1, berphoto dengan bangga sembari mengibarkan bendera Merah Putih, berlatar belakang gugusan kepulauan karst di hamparan birunya laut. Lelah yang tadi menggelayut seketika lenyap, saat hembusan angin menerpa dan ketika pandangan mata disuguhi pemandangan indah luar biasa ciptaan Tuhan ini.

DSC_0174Wayag1.jpg

Kalau tidak karena antri pengunjung dan mengejar waktu untuk menuju Puncak Wayag 2, rasanya kami ingin berlama-lama di sini. Tapi tak apa, rasa penasaran akan Wayag 1 sudah terbayar, kami pun bergegas turun. Dengan hati-hati agar tidak tergelincir pastinya. Bagi yang phobia ketinggian disarankan tidak melihat ke bawah.

Sampai di bawah, sesaat kami bermain-main dan berphoto di pantai berpasir putih. Meskipun agak gerimis, tetap tidak menyurutkan niat kami untuk berphoto dengan berbagai gaya berlatar belakang pantai pasir putih, laut hijau jernih, gugusan karst, juga sebuah kapal pengunjung yang berukuran besar semacam phinisi yang berlabuh agak jauh ke tengah karena tidak bisa menepi.

Wayag 1f.jpg

Wayag 2, terperangah, kaget, terkejut, dan semacamnya ekspresi yang hadir ketika melihat seperti apa penampakan Wayag 2. Benar-benar batu tegak di atas air. Tidak ada tanah nampak terlihat dari atas speedboat kami. Dan dari 9 orang rombongan kami, cuma 5 orang yang memutuskan mendaki. Mendaki dengan menggunakan gaya cicak atau laba-laba.

Memanjat dengan mencengkeram bebatuan secara erat dan kuat supaya tidak jatuh tergelincir. Menunduk supaya tidak terkena tumbuhan berduri yang tumbuh di sekeliling. Sempat juga kakiku tergores batu dan sedikit mengeluarkan darah. Tapi tak apa, inilah petualangan yang sesungguhnya.

Sekitar 15 menit memanjat sampailah kami di puncak. Pemandangan yang di dapat?? Ya tentu saja sangat luar biasa. Hijau, biru, laut jernih dengan gugusan karst yang nampak seperti cendawan yang tumbuh subur. Sayangnya, puncak Wayag 2 ini sempit, sedangkan pengunjung banyak, jadi harus antri dengan posisi yang lumayan berbahaya. Maka dari itu, kami yang di puncak segera bergegas turun supaya pengunjung yang lain bisa segera ke atas.

Wayag 2b.jpg

Turun pun agak sulit karena selain medan yang curam, pengunjung yang naik pun banyak. Jadi kami sesekali harus minggir bergantian untuk memberi jalan. Sampai di bawah kami harus buru-buru naik ke speedboat agar yang di belakang bisa segera turun juga. Sempit sekali memang areanya.

DSC_0232Wayag2.jpg

Waktu beranjak siang, jam makan siang telah datang. Kami berencana makan siang di Mesh Conservation International Wayag. Letaknya tidak begitu jauh dari Wayag 2. Perjalanan sekitar 15 menit saja. Perjalanan dari Wayag 2 menuju Mesh CI sangat luar biasa, pemandangan indah yang tersaji di depan mata sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Kami juga melihat penyu hijau yang berenang menghindar ketika speedboat kami melintas.

Mesh Conservation International Wayag merupakan tempat tinggal para pekerja yang setiap harinya bertugas memantau keadaan sekitar kepulauan Wayag. Dulu pernah terjadi pembantaian Hiu dikawasan Wayag, banyak hiu mati. Perilaku nelayan pembantai hiu tersebut telah membunuh ekosistem secara masif, kepunahan hiu menghambat regenerasinya. Terkadang para pekerja Mesh CI tersebut mengantar pengunjung yang ingin ke puncak Wayag.

Sebelum turun, para awak speedboat kami sudah memberi tahu bahwa ada sesuatu yang menarik di pantai. Apakah itu? Mereka membuat kami penasaran saja. Satu persatu perbekalan di naikkan ke dermaga, begitu juga peralatan snorkelling yang dibawa. Rencananya sehabis makan siang kami langsung ingin menceburkan diri ke air, snorkelling di pantai yang airnya sangat jernih sekali. Pasir putih pantainya pun menggoda untuk dipakai berguling-guling.

Begitu kami naik, awak speedboat kami langsung berteriak keras dengan logat khas Papua nya. “Itu hiunya, itu hiunya. Di sebelah sana. Kalian lihat ke sana. Itu….mereka ada banyak”. Teriaknya. Apa??? Hiu??? Kami spontan saja kaget. Di pantai ada hiu?? Ahh, yang benar saja. Dan mata kami langsung mengarah ke tempat yang ditunjuk si bapak tadi.

DSCN1133.jpg

Terkesima dan takjub membuat kami sesaat bengong. Yaa….predator itu nampak gemulai berenang di pantai. Di air hijau jernih yang ada di bawah kami. Satu…dua…tiga…nampak lagi…dan lagi…. Ada yang masih bayi berwarna putih seperti albino. Ada yang abu-abu, ada yang hitam.

DSCN1126.jpg

Hiu karang ternyata banyak hidup di tempat ini. Di pantai depan Mesh Conservation International Wayag ini. Luar biasa. Mereka hidup liar, tidak dipelihara. Tetapi tidak agresif. Mungkin karena sudah kenyang. Entahlah. Yang pasti, setenang apapun mereka, mereka adalah tetap predator. Karena itu kita harus menjaga sikap.

DSCN1151.jpg

Hiu karang atau ikan hiu Sirip Putih tercatat sebagai ikan dengan kategori Hampir Terancam, jumlahnya semakin menipis karena peningkatan kegiatan perikanan yang tidak diatur di seluruh jangkauan. Ini adalah salah satu hiu yang paling umum ditemui di terumbu karang. Ciri utama yang dimiliki ikan hiu ini adalah bentuk moncong mulutnya dan tanda warna hitam yang berada di ujung sirip punggung dan ekornya.

DSCN1128.jpg

“Woy, kamera mana?”, heboh kami segera memegang kamera. Jepret sana jepret sini. Semua hiunya kalau bisa diphoto satu persatu. Ramai kami bertanya ke awak speedboat. “Pak, kita bisa tidak berenang di sini? Ini hiunya gigit tidak? Boleh tidak kalau berenang?”. Dan begitu awak speedboat kami mengatakan boleh berenang dan sejauh ini aman, maka kami langsung bersorak bahagia. Yeayy….meskipun ada sedikit rasa takut juga sebenarnya. Wow…kami akan berenang bersama predator di sini.

“Makan dulu yuukk Gaess”. Suara Tour Leader kami membuyarkan kehebohan yang sedang berlangsung. Okay, biar bertenaga dan makin bersemangat snorkelingnya, mari kita makan siang dulu. Duduk santai di kursi kayu yang ada di depan mesh, di bawah naungan pohon yang rimbun teduh, aduhai….nyaman sekali rasanya.

Makan siang yang terasa sungguh istimewa. Dengan orang-orang istimewa. Teman-teman yang menyenangkan pastinya. Sepoi-sepoinya angin sesaat membuat kami lupa akan hiu tadi. Tapi kemudian ada kawan yang mengingatkan. “Makannya buruan yuk, terus berenang sama hiu yang tadi. Aku ingin photo”. Kata dia seperti sudah tidak sabar.

Baiklah, habiskan makanan, bersihkan sampah, bereskan peralatan. Yup, kami buru-buru mengerjakannya. Dan setelah semua selesai, langsung kami berhamburan menuju pantai sambil berceloteh riuh. “Hiu…hiu…hiu….”. Terlihat beberapa ekor hiu menepi ke pantai. Kemudian kami saling mengirim pesan berantai, tidak ada yang boleh memegang atau mengganggu hiu-hiu tersebut. Berenang pun harus tetap dalam jarak aman.

Begitu sampai di bibir pantai, sejenak kami berhenti. Meyakinkan diri masing-masing. Beranikah masuk ke air? Satu orang masuk, aman. Disusul berikutnya, dan berikutnya lagi. Dan akhirnya kami semua masuk air. Tapi sejauh ini tidak ada yang berani mendekati hiu. Kami tetap menjaga jarak aman.

Bermain air dan snorkelling di jernihnya air dengan pasir putih ini membuat kami sudah tidak begitu menghiraukan hiu yang hilir mudik mendekati. Kami pikir mereka sudah benar-benar kenyang. Sama seperti kami yang sudah kenyang juga.

Sementara teman-teman asyik bermain air di pinggir pantai, aku tidak bisa menghentikan rasa penasaranku terhadap hiu-hiu ini. Aku mulai keluar menjauh dari teman-teman. Sedikit berenang agak menjauh dari pantai. Mataku mulai mencari-cari dimanakah hiu besar yang tadi sempat terlihat olehku. Tadi aku sempat melihat beberapa hiu berukuran sekitar 1 meter yang berenang anggun.

DSCN1194.jpg

Ku coba menyelam sedikit dengan melakukan freediving. Dan yang kucari akhirnya terlihat lagi. Si hitam yang gagah terlihat berenang manja beberapa meter di depanku. Pelan-pelan kudekati hiu itu, kuposisikan diriku untuk berenang sejajar di sampingnya, lalu ku siapkan kamera underwater yang kubawa. Jepret…jepret….dapat! Beberapa photo hiu karang dewasa itu sudah ku dapatkan. Tak lupa juga dengan videonya.

Dengan berlagak sok berani ku coba berenang mendekatinya. Dari belakang ku coba mengejarnya. Dan dengan gemulainya dia tetap berenang santai. Tapi aku sungguh tak menyangka ketika tiba-tiba dia berbalik arah dan berenang ke arahku.

DSCN1196.jpg

Ya Tuhan, spontan aku kaget luar biasa. Panik dan buru-buru berenang ke tepian. Dan ternyata aku salah. Hiu itu tidak mengejarku. Lega rasanya. Seharusnya memang tidak perlu khawatir dengan hiu-hiu itu, asalkan kita tidak mengganggu mereka dan mereka tidak mencium aroma darah, mereka tidak akan menyerang kita.

Setelah mengatur napas karena sempat kaget tadi, aku kemudian masuk lagi ke air. Snorkeling lagi mencari sesuatu yang bagus. Tapi sesuatu yang bagus itu tak perlu dicari di sini karena semuanya bagus. Karang, ikan-ikan, koral, nemo dengan anemonnya, bintang laut, dan juga kima. Semua terlihat sangat bagus. Untung cuaca cerah jadi kejernihan air juga bagus sekali.

DSCN1206.jpg

Nemo orange yang berpadu warna dengan hijaunya anemon, cerah dan cantik sekali. Kima hijau kuning cerah, ikan kecil warna warni, air laut biru, dasar pantai dengan pasir putih, pemandangan yang sempurna rasanya. Ditambah tiang pancang dermaga sebagai pelengkapnya.

DSCN1177.jpg

Karena di tempat ini cuma ada rombongan kami saja, maka rasanya nyaman sekali bermain di tempat ini. Sepi dan terasa seperti pulau pribadi. Berjalan menyusuri pantai pasir putih, dengan hiu yang berenang dekat sekali dengan kaki kita, sepertinya tidak bisa kita temui di tempat lain.

Karena cuaca yang sangat panas, aku tidak mau berlama-lama berada di luar air. Buru-buru masuk dan berenang lagi. Menyelam atau freediving diantara batu-batu karang di bawah dermaga, menyelip diantara tiang-tiang penyangga yang panjang. Tak di sangka-sangka, tiba-tiba muncul hiu dewasa dari batu karang di depanku.

Sempat terminum air laut olehku karena kaget, aku kemudian naik ke permukaan. Tertawa mentertawakan kekagetanku sendiri. Padahal hiu tersebut tidak menyerang, dia sibuk berenang sendirian ditemani ikan-ikan kecil yang selalu setia mengikutinya dari bawah. Dia asyik bermain di atas anemon, mungkin menggoda nemo-nemo yang tinggal di sana.

DSCN1198.jpg

Dan yang ku lihat, nemo-nemo tersebut seperti tidak takut dengan kehadiran para hiu. Mereka tenang saja berenang keluar masuk rumahnya ketika sang predator melintas di sekitar mereka. Asyik sekali menikmati kehidupan bawah air di depan Mesh CI Wayag ini. Jadi rasanya sayang jika mengunjungi Raja Ampat kalau tidak mampir ke spot ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s