Mengulik Istana Karang Gua Sunyaragi

Cirebon, terkenal sebagai Kota Wali. Kota tempat Sunan Gunung Jati menyebarkan Agama Islam. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat. Sunan Gunung Jati merupakan cucu dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang, beliau merupakan adik dari Pangeran Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang.

Kota Cirebon adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa dikenal dengan jalur Pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya. Selain dikenal sebagai Kota Wali, Cirebon dikenal juga dengan sebutan Kota Udang.

Julukan Cirebon sebagai Kota Udang dikarenakan produksi budidaya udang yang berkembang di kota ini. Mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam.

Sebagai kota tempat penyebaran Agama Islam, tentu banyak peninggalan bersejarah di kota ini. Dan destinasi yang wajib dikunjungi ketika ke Cirebon adalah Gua Sunyaragi dan keraton paling bersejarah di Cirebon yaitu Keraton Kasepuhan Cirebon. Selain itu tidak ada salahnya menikmati ragam kuliner yang ada di kota ini juga.

Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi berlokasi di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, atau tepatnya di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono. Gua Sunyaragi, sering disebut Taman Air Sunyaragi atau Taman Sari Sunyaragi. Nama “Sunyaragi” sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta. Kata “Sunya” yang artinya sepi, dan kata “Ragi” yang artinya raga. Jadi Gua Sunyaragi artinya adalah gua yang digunakan untuk menyepi.

Pada zaman dahulu kompleks gua seluas 15 hektare tersebut di kelilingi oleh sebuah danau, yaitu Danau Jati. Lokasi dimana dahulu terdapat danau Jati saat ini sudah mengering dan dilalui oleh jalan by pass Brigjen Dharsono, Sungai Situngkul, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Sunyaragi milik PLN, persawahan, dan sebagiannya lagi menjadi pemukiman penduduk.

Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari Keraton Pakungwati, yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan Cirebon. Kompleks Gua Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bangunan gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air.

Bagian luar komplek bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk Candi Bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa. Paduraksa adalah bangunan berbentuk gapura yang memiliki atap penutup yang lazim ditemukan dalam arsitektur kuno dan klasik di Jawa dan Bali.

Sejarah berdirinya Tamansari Gua Sunyaragi memiliki dua versi, yang pertama adalah menurut cerita para bangsawan Cirebon atau keturunan keraton yang disampaikan secara turun-temurun. Versi tersebut dikenal sebagai Carub Kanda. Versi kedua merupakan versi Caruban Nagari yaitu berdasarkan buku Purwaka Caruban Nagari yang ditulis tangan oleh Pangeran Kararangen (Pangeran Arya Carbon) pada tahun 1720.

Versi inilah yang digunakan sebagai acuan bagi pemandu wisata Gua Sunyaragi. Berdasarkan versi tersebut Gua Sunyaragi didirikan oleh Pangeran Kararangen yang merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1703. Tujuan utama dibangunnya Gua Sunyaragi adalah sebagai tempat untuk beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Tempat ini beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan.

Dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif  yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam, dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur Gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam, dan gaya Eropa.

Gua Sunyaragi didirikan pada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut memengaruhi gaya arsitektur gua Sunyaragi. Sebagai peninggalan keraton yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, Gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah.

Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks Gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada Gua Padang Ati, Gua Peteng, dan Gua Kelanggengan. Di depan pintu masuk Gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkan jodoh.

Tetapi bagi yang tidak sengaja memegang patung tersebut, ada baiknya pergi ke Gua Kelanggengan yang berada tidak jauh dari pohon lengkeng. Konon disitu juga siapapun yang masuk ke Gua Kelanggengan tersebut akan enteng jodohnya. Jika sudah memiliki jodoh, dipercaya juga langgeng terus cintanya. Tapi pada saat musim hujan, Gua Kelanggengan ini tidak dapat dimasuki dikarenakan tergenang air.

Mitos Patung Batu Prawan Sunti tetap dijaga oleh para pemandu dan mereka selalu memberikan imbauan kepada pengunjung agar tidak berperilaku sembarangan ketika berada di lokasi Gua Sunyaragi apalagi sampai memegang Patung Batu Prawan Sunti.

DSC_0480-Gua Peteng

DSC_0483-Gua Langse & Patung Perawan Sunti

Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak Keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik Gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata Gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkalai.

Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Gua Sunyaragi adalah tempat para pembesar keraton dan para prajurit-prajuritnya bertapa, untuk meningkatkan ilmu kanuragan.

Secara garis besar Taman Sari Sunyaragi adalah tempat bagi para pembesar keraton dan prajuritnya bertapa untuk meningkatkan ilmu Kanuragan. Terdapat 12 Fungsi setiap Bagian Gua yaitu :

  1. Bangsal Jinem adalah tempat Sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit yang sedang berlatih.
  2. Gua Pengawal yaitu sebagai tempat berkumpulnya semua pengawal Sultan.
  3. Komplek Mande Kemasan (sebagian telah hancur).
  4. Gua Pandekemasang digunakan sebagai tempat membuat senjata-senjata tajam.
  5. Gua Simanyang digunakan sebagai tempat pos penjagaan.
  6. Gua Langse sebagai tempat untuk bersantai.
  7. Gua Peteng sebagai tempat nyepi untuk melatih kekebalan tubuh.
  8. Gua Arga Jumud sebagai tempat orang penting keraton.
  9. Gua Padang Ati digunakan sebagai tempat bersemedi.
  10. Gua Kelanggengan digunakan untuk tempat bersemedi agar langgeng jabatannya.
  11. Gua Lawa merupakan tempat berkumpulnya para kelelawar.
  12. Gua Pawon sebagai ruangan dapur dan penyimpanan makanan.

Tepat di samping Gua Kelanggengan terdapat sesosok batu berbentuk manusia dengan kepala garuda yang dililit ular. Patung tersebut mempunyai makna bahwa seorang pemimpin yang sudah berkuasa tidak boleh lupa akan tanggung jawabnya pada rakyat.

DSC_0484-Garuda

Selain itu ada juga sebuah patung yang berbentuk gajah, konon jika seseorang memasukan koin pada belalainya dipercaya akan mendatangkan hujan. Ada juga sebuah kolam yang berada di depan museum Gua Sunyaragi. Kolam tersebut biasanya kering pada musim kemarau namun disisi pojok kolam tersebut terdapat bagian yang tidak pernah mengering, konon pada bagian tersebut dipercaya terdapat lubang yang sangat dalam tidak berdasar yang menjadi tempat tinggal seekor buaya putih.

DSC_0468-Gajah

DSC_0499

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s