Keraton Kasepuhan, Tempat Para Pendiri Cirebon Bertakhta

Peninggalan bersejarah lain yang ada di Kota Cirebon adalah Keraton Kasepuhan. Keraton Kasepuhan merupakan kerajaan Islam tempat para pendiri Cirebon bertahta. Di sinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri. Keraton Kasepuhan Cirebon beralamat di Jalan Kasepuhan No. 43, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

DSC_0509-Pintu Masuk

Sama seperti halnya keraton-keraton yang ada di wilayah Cirebon, bangunan keraton Kasepuhan ini juga menghadap ke arah Utara. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat sebuah masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Dan di sebelah Timur alun-alun dahulunya adalah sebuah pasar.

Model bentuk keraton yang menghadap Utara dengan bangunan sasjid di sebelah Barat dan pasar di sebelah Timur serta alun-alun ditengahnya merupakan model tata letak keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Dan sampai sekarang, tata letak seperti ini banyak diikuti oleh kabupaten atau kota terutama di Jawa, yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah Baratnya terdapat masjid.

Keraton Kasepuhan memiliki dua buah pintu gerbang, pintu gerbang utama keraton Kasepuhan terletak di sebelah Utara dan pintu gerbang kedua berada di Selatan komplek. Memasuki jalan komplek Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata di sekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi.

DSC_0507

Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti komplek candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit.

Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri , yaitu :

  1. Malang Semirang, merupakan bangunan utama yang terletak di tengah dengan jumlah tiang utama 6 buah. Melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah, melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman.
  2. Mande Semar Tinandu, bangunan ini terletak di sebelah kanan bangunan utama dengan 2 buah tiang yang melambangkan dua kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan atau Penghulu.
  3. Mande Karesman, sebuah bangunan yang terletak disebelah Mande Pengiring. Tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan atau gamelan. Bangunan ini sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat untuk membunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.
  4. Pendawa Lima, adalah bangunan di sebelah kiri bangunan utama dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun Islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.
  5. Mande Pengiring, bangunan yang berada di belakang bangunan utama, merupakan tempat para pengiring Sultan.

Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang berasal dari budaya Hindu bernama Lingga Yoni yang merupakan lambang dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. Selain itu juga terdapat bangunan Pengada yang berada tepat di depan gerbang Pengada, berfungsi sebagai tempat membagikan berkat dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja.

DSC_0514-Malang Semirang

Gerbang atau Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk ke halaman selanjutnya. Gerbang yang berbentuk paduraksa ini menggunakan batu dan daun pintunya dari kayu. Area utama keraton Kasepuhan merupakan area yang berisikan bangunan induk keraton Kasepuhan serta bangunan penunjang lainnya.

DSC_0515-Regol Pengada

Halaman Pengada berada setelah Regol atau Gerbang Pengada. Berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda. Di Halaman Pengada juga terdapat Langgar Agung. Langgar atau masjid ini bangunannya menghadap ke arah Timur.

DSC_0517-Langgar Agung.jpg

Di dalam area utama keraton ini terdapat beberapa bangunan di antaranya Taman Dewandaru yang bentuknya bulat melingkar tanpa terputus. Di dalam taman ini terdapat pohon Soko (lambang suka hati), dua buah patung macan putih (lambang keluarga besar Pajajaran keturunan Prabu Siliwangi), meja dan dua buah bangku serta sepasang meriam yang dinamakan meriam Ki Santomo dan Nyi Santoni. Ada juga Tugu Manunggal, batu berukuran pendek sekitar 50 cm, dikelilingi pot bunga melambangkan Allah SWT yang satu.

DSC_0528-Bangsal Keraton.jpg

DSC_0539.jpg

Kemudian ada juga Museum Benda Kuno yang berada di sebelah barat Taman Dewandaru, berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno kesultanan Kasepuhan. Selain itu terdapat pula Museum Kereta di sebelah Timur Taman Dewandaru berfungsi sebagai tempat penyimpanan kereta kencana kesultanan Kasepuhan, serta bangunan induk keraton yang merupakan tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan atau biasa disebut Bangsal Keraton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s