Peluk Lazuardi Teluk Tomini

Loka langit memaku raga dan laut biru memaut hati.

Pengumuman dari pengeras kapal terdengar. Sang Kapten mengumumkan bahwa kapal sebentar lagi merapat di Pelabuhan Wakai, Tojo Una-Una, Kepulauan Togean. Bergegas kami bangun dari matrass yang nyaman di kelas bisnis KMP. Tuna Tomini. Tujuan perjalanan kami ini adalah Taman nasional Kepulauan Togean yang berada di Teluk Tomini.

DSC06447.jpg

Secara administratif, Kepulauan Togean berada dalam wilayah Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota Ampana. Di tengah teluk ini terdapat sebuah gunung api, tepatnya di Pulau Una Una. Oleh karena itu, tidak heran jika tersimpan ratusan spesies bawah laut yang masih terjaga. Kepulauan Togean memiliki sekitar 200 gugusan pulau-pulau indah dan sepi tak berpenghuni.

Posisi kepulauan Togean yang berada di tengah Teluk Tomini sebenarnya dapat di jangkau dari 6 kabupaten di pesisir Teluk Tomini, yaitu Pagimana (Kabupaten Banggai), Ampana (Kabupaten Tojo Una-Una), Poso (Kabupaten Poso), Parigi (Kabupaten Parigi Moutong), Marisa dan Paguat (Kabupaten Pohuwato), serta Kota Gorontalo. Yang memiliki jalur transportasi publik rutin hanya 3 jalur yaitu Ampana, Paguat (Pohuwato), dan Gorontalo.

Kali ini kami memilih perjalanan dari Gorontalo menggunakan KMP. Tuna Tomini dengan lama perjalanan sekitar 12 jam dan melintasi garis equator. Kapal dari Gorontalo ke Wakai cuma ada dua kali dalam seminggu, begitupun sebaliknya. Berangkat dari Pelabuhan Gorontalo sekitar jam 19.00 WITA dan tiba di Pelabuhan Wakai sekitar jam 07.00 WITA. Setibanya di Wakai, kami melanjutkan perjalanan dengan speedboat kecil ke resort yang ada di Pulau Kadidiri.

Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Pelabuhan Wakai ke resort kami yang ada di Pulau Kadidiri.  Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sungguh indah. Hamparan laut yang membiru, tenang berayun tanpa riak. Dari kejauhan nampak garis pantai dengan hamparan pasir putihnya.

Tanpa menyia-nyiakan waktu kami segera bergegas mengeksplore Kepulauan Togean setelah sarapan tentunya. Tujuan pertama adalah Danau Mariona yang terletak di Desa Lembanato. Danau ini merupakan salah satu dari empat danau di dunia yang dihuni oleh ubur-ubur tanpa sengat. Danau Mariona terkenal juga dengan nama Dagat Molino. Berjarak sekitar satu jam perjalanan dari resort tempat kami menginap.

Proses alam membuat Danau Mariona yang dulunya tersambung dengan laut menjadi terisolasi dan membentuk satu danau yang airnya berwarna hijau bila dilihat dari permukaan. Di sekeliling danau ditumbuhi pepohonan mangrove, membuat warna hijau menjadi sangat dominan. Danau yang terbentuk dari proses alam itu perlahan berubah menjadi danau air payau. Karena terisolasi, ubur-ubur yang hidup dan berkembangbiak di Danau Mariona kehilangan kemampuan menyengat sehingga kita tidak perlu takut disengat apabila berenang di dalamnya.

DJI_0057.jpg

Bagi yang ingin berenang dengan ubur-ubur tanpa sengat di Danau Mariona, diharapkan untuk menjaga kelestarian alam dengan bijak. Contohnya dengan tanpa menggunakan sunblock karena zat kimia yang ada di dalam produk tersebut akan luntur dan mencemari habitat ubur-ubur, tidak menggunakan fins atau sepatu katak, tidak melompat dari atas saat masuk ke air, serta gunakan pelampung jika memang tidak mahir berenang.

DSCN3186.jpg

Puas bermain dengan ubur-ubur tanpa sengat di Danau Mariona, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Papan. Pulau ini dihuni oleh Suku Bajo, suku yang sangat terkenal karena kehidupan nomadennya. Kehidupan nomaden adalah kehidupan yang selalu berpindah-pindah, tidak pernah menetap disuatu tempat.

Suku Bajo juga sangat ahli dalam melaut dan laut merupakan kehidupan utama Suku Bajo. Karena itu, kehidupan Suku Bajo dengan laut tidak bisa dipisahkan. Bahkan, Suku Bajo membangun rumah-rumah mereka di atas laut. Pulau Papan bagian tengah hanya dipakai untuk mendirikan bangunan ibadah saja. Rumah-rumah Suku Bajo mayoritas menggunakan papan dan batang pohon jenis bakau yang tahan air sebagai penyangganya.

DJI_0097.jpg

Di Pulau Papan terdapat sebuah jembatan kayu yang sangat terkenal. Dengan panjang sekitar 1 kilometer, jembatan kayu tersebut menghubungkan Pulau Papan dengan Pulau Malenge yang menjadi pusat kelurahan dari wilayah setempat. Jembatan itu juga digunakan untuk anak-anak Pulau Papan bersekolah ke sekolah yang terdapat di Pulau Malenge.

DJI_0113.jpg

Bermain dengan anak-anak Pulau Papan sungguh menyenangkan. Mulai dari bermain tebak-tebakan seputar pelajaran sekolah, bernyanyi bersama, bermain laying-layang, sampai meloncat dari jembatan kayu ke laut yang jernih. Semua begitu mengesankan. Anak-anak tersebut sangat bersemangat sekali bermain dengan kami.

Anak-anak Pulau Papan mempunyai sebuah lagu yang mereka ciptakan sendiri, berjudul “Aku Anak Pulau Papan”. Jika berkunjung ke sana, mintalah mereka menyanyikannya. Tak terasa, waktu semakin sore dan kami harus segera kembali ke resort karena sudah berencana untuk menikmati matahari tenggelam sambil bersantai.

Selama perjalanan, sejauh mata memandang, hamparan biru nyata terpampang di depan mata. Seolah langit dan laut menyatu menjadi satu, membiru dengan begitu indahnya. Kejernihan laut Togean yang masih terjaga membuat bias langit memantul sehingga membuat warna biru yang begitu tajam.

Ketika sampai di resort, matahari sudah mulai turun ke garis cakrawala. Sinarnya yang kuning keemasan memancar dengan indahnya. Pantulan sinar matahari yang jatuh di air sungguh mengagumkan. Pesonanya membuat kami terpaku di dermaga sampai matahari benar-benar menghilang di ufuk Barat.

DJI_0079.jpg

Malam menjelang, seusai makan malam kami kembali ke jetty resort. Bersantai sambil menikmati gemerlap bintang yang bertaburan di langit. Pemandangan yang langka dan sangat sulit didapatkan di kota besar. Jutaan bintang berserakan di angkasa, berkerlip memberi terang.

Jika berkunjung ke Togean, jangan lewatkan untuk mencicip kedalaman lautnya dengan diving. Taman laut Kepulauan Togean sangat memukau dengan banyak spot diving berserakan di berbagai titik. Keanekaragaman biota lautnya mampu menghipnotis para penyelam.

DSCN3305.jpg

Kebetulan saya mencoba dua spot diving yang terletak tak jauh dari resort tempat kami menginap. Taipi Wall dan Haven. Jernihnya air berkilau bak permata. Begitu menceburkan diri ke air, pesona keindahannya membuat mata rasanya tak ingin berkedip. Ikan-ikan beraneka warna dan bentuk hilir mudik. Schoolling fish menggoda dengan keanggunan liuk gerombolannya.

Coral-coral sehat dan warna-warni menghiasi sepanjang area penyelaman kami. Nudibranch, nemo, crocodile fish, bahkan blacktip reefshark juga menyapa kami dalam penyelaman. Rasanya ingin berlama-lama di dalam air bermain dan mengejar ikan-ikan di kedalaman. Tapi tentu saja tidak bisa. Kami harus segera naik ke permukaan. Mengucapkan selamat tinggal pada para penghuni taman laut Togean.

Untuk menjaga kelestarian taman laut, peran serta pengunjung sangat diperlukan. Tidak berbuat vandalisme dan menjaga kebersihan laut menjadi kewajiban kita sebagai pengunjung agar kelestarian taman laut Togean tetap terjaga, serta berlaku bijak dalam memanfaatkan dan menikmati kekayaan alam ini untuk diwariskan ke anak cucu kita.

Note : Artikel ini di publish di XpressAir inflight magazine edisi Nov. – Dec. 2018.

Xpress Nov. - Dec. 2018.jpg

Togean Xpress Nov. 2018.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s