Zamrud di Ujung Selatan Sulawesi

Jajaran pohon kelapa berbaris sepanjang jalan yang kami lalui. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunannya. Tegar dan gagah nampak menyangga langit.

Pagi itu, kami berangkat dari Makassar menuju ujung Selatan Sulawesi dengan perjalanan tempuh sekitar 5 jam. Cuaca sungguh cerah, langit biru bersih dengan hanya sedikit awan. Tengah hari kami sampai di resort yang berada di pinggiran sebuah pantai indah di Tanjung Bira. Setelah beristirahat beberapa saat, kami lalu berangkat ke Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang berjarak sekitar 18 km dari Tanjung Bira.

Ujung Selatan Pulau Sulawesi selain menawarkan keindahan pantai-pantai eksotis biru toska dengan pasir putih serta tebing-tebing indahnya, di sana juga terdapat satu pesona yang mungkin belum dikenal banyak orang. Sebuah perkampungan pesisir yang warganya merupakan pembuat perahu legendaris Indonesia yang sudah terkenal ke seantero dunia. Pinisi, nama perahu legendaris tersebut, adalah merupakan sebuah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Perkampungan tersebut adalah Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba.

DSC_0859.jpg

Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang. Umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antar pulau. Kabupaten Bulukumba sendiri memiliki julukan “Butta Panrita Lopi” yang berarti tanah para ahli pembuat perahu pinisi.

DSC_0855.jpg

Perkampungan pesisir pembuat perahu atau kapal Phinisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke ujung Selatan Pulau Sulawesi ini. Perahu Pinisi membuktikan bahwa Indonesia dahulu adalah negara maritim yang luas dengan budaya pelaut dan pembuat kapal yang tangguh. Ciri khas perahu Pinisi adalah layar lebar membentang pada bagian depan dan belakangnya karena dulunya pelaut Indonesia mengandalkan angin sebagai pendorong laju perahu.

DSC_0858.jpg

Namun, di zaman modern ini, perahu Pinisi kini ada yang menggunakan mesin motor diesel sebagai tenaga pendorongnya. Kapal Pinisi dibuat dengan perpaduan beberapa jenis kayu. Satu bahan utama dan wajib dalam membuat perahu Pinisi dari kayu bitti atau kayu gofasa. Kayu bitti tersebut kini keberadaannya mulai berkurang di sebagian besar kawasan di Sulawesi Selatan. Kayu bitti (Vitex cofasus) merupakan bahan utama yang digunakan untuk membuat rangka lambung kapal karena bentuknya cenderung bengkok atau melengkung.

Selain kayu bitti, digunakan juga kayu Ulin atau kayu besi yang sebagian besar berasal dari Sulawesi Tenggara. Sedangkan untuk pembuatan cabin atau kamar-kamar pada kapal digunakan kayu jati. Semua kayu-kayu tersebut sebagian besar berasal dari Pulau Sulawesi. Sebuah kapal Pinisi dibuat dengan waktu sekitar 3 sampai 6 bulan, terkadang juga bisa lebih, tergantung dari kesiapan bahan dan musim.

Pemesan kapal Pinisi tidak hanya berasal dari dalam negeri saja, tapi banyak juga yang berasal dari luar negeri. Harga kapal Pinisi pun juga bervariasi, mulai dari ratusan juta hingga milyaran rupiah. Kebutuhan dalam negeri akan kapal ini sangat tinggi. Selain dari sektor perikanan non pemerintah, seiring dengan makin berkembangnya industri pariwisata, maka pemesan Pinisi untuk kebutuhan pariwisata juga melonjak naik dengan drastis.

Para pengusaha kapal Pinisi mematok harga sekitar 300-500 juta rupiah untuk sebuah kapal berkapasitas sepuluh orang penumpang atau tergantung dengan fasilitas yang diinginkan. Beruntung saat itu kami diundang untuk melihat-lihat kondisi dalam kapal yang siap diantarkan ke pemesannya. Kapal tersebut sudah berada di pantai siap membentangkan layarnya dan mengarungi samudera menuju pemesannya.

Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakanĀ  kapal Pinisi sudah ada sebelum tahun 1500-an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok dengan tujuan hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga lalu terdampar di Desa Ara, Tanah Beru, dan Lemo-lemo. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi.

Tanah Beru dan Lemo-Lemo berada di area yang sama. Jika berkunjung ke sana, jangan lewatkan menanti matahari tenggelam di Pantai Lemo-Lemo. Keindahan matahari saat turun ke garis cakrawala sangat indah dinikmati di pantai ini. Dengan latar laut luas yang tenang dan kapal-kapal nelayan yang siap berangkat melaut.

DSC_0892.jpg

Selain Tanah Beru dan Lemo-Lemo, kami juga berkunjung ke tempat pembuatan kapal Pinisi yang lain, yaitu Desa Ara tepatnya di Pantai Mandala Ria. Desa Ara merupakan sebuah desa yang kecil, satu dari tiga desa pembuat perahu Pinisi yang terkenal di Bulukumba. Desa Ara berjarak sekitar 10 km dari Desa Bira. Hampir seratus persen warga Desa Ara adalah pembuat perahu. Bahkan para pembuat perahu di Tanah Beru dan Lemo-Lemo pun banyak yang berasal dari Desa Ara.

DSC_0960.jpg

Di Desa Ara kami temui pula sebuah kapal yang siap diantarkan ke pemesannya. Kondisi Pantai Mandala Ria Desa Ara ini lebih sepi dibanding Pantai Lemo-lemo Tanah Beru. Pantai Mandala Ria ini tenang sekali, mempunyai pasir putih selembut tepung. Pantai ini membuat betah pengunjung untuk berlama-lama bermain karena hamparan pasir putihnya luas dan panjang. Pantai Mandala Ria lebih cocok dinikmati ketika pagi hari untuk menyaksikan matahari terbit karena pantai ini menghadap ke arah Timur.

Selain daerah pembuatan Pinisi, di ujung Selatan Sulawesi ini kita juga bisa menikmati pantai-pantai cantik nan eksotik. Sebut saja Pantai Bara, Pantai Bira, Pantai Appalarang, serta banyak pantai indah lainnya. Ada juga pulau-pulau cantik seperti Pulau Kambing dan Pulau Liukang Loe. Di pulau-pulau tersebut kita bisa melakukan snorkelling ataupun diving karena taman lautnya pun cukup indah dan lautnya pun sangat jernih.

DSC_0909.jpg

DSCN3425.jpg

Pantai-pantai di pesisir Tanjung Bira umumnya berpasir putih halus seperti tepung. Dengan tebing-tebing tinggi yang memagarinya, membuat kita seolah terisolasi dari dunia luar. Resort-resort pun banyak berjajar mulai dari yang tarifnya murah sampai yang mahal.

DSC_0919.jpg

Di Pantai Bira selain terdapat hotel-hotel yang ramai, terdapat juga watersport seperti banana boat dan fasilitas untuk hopping island. Sedangkan di Pantai Bara terdapat banyak resort-resort yang menawarkan ketenangan. Jadi jika kita berkunjung ke Tanjung Bira, kita bisa memilih untuk menginap dimana. Apakah di kawasan Pantai Bira yang ramai, ataukah di Pantai Bara yang cenderung sepi tapi tenang. Untuk mengeksplore kawasan Tanjung Bira dan Bulukumba banyak pula disewakan motor dengan tarif yang bersahabat.

Note : Artikel ini dimuat di Sriwijaya Inflight Magazine edisi Februari 2019 Rubrik Journey.

Tanjung Bira.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s