Hati Bertalu di Gorontalo

Kali kedua ke kota ini, belum juga rasa bosan hinggap di hati. Kota kecil di Teluk Tomini ini tenang dan penuh keramahan. Selain itu, banyak destinasi wisata yang menarik untuk disinggahi. Gorontalo, tawarkan pesona bumi Maleo.

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Jalaluddin, Gorontalo. Setelah melewati perjalanan panjang dari Jakarta, penat seketika lenyap ketika disambut langit biru Bumi Maleo. Selain Bumi Maleo, Gorontalo juga mempunyai beberapa julukan, misalnya Kota Hulontalo, Bumi Serambi Madinah, Bumi Para Sastrawan, Provinsi Agropolitan, The Hidden Paradise, serta Bumi 1001 Sultan.

IMG_20180907_125600.jpg

Gorontalo adalah sebuah Provinsi di Indonesia yang lahir pada tanggal 5 Desember 2000. Seiring dengan munculnya pemekaran wilayah yang berkenaan dengan Otonomi Daerah di Era Reformasi, provinsi ini kemudian dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000, tertanggal 22 Desember dan menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia. Ibukota Provinsi Gorontalo adalah Kota Gorontalo.

Sebutan Bumi Maleo untuk Gorontalo dipengaruhi oleh keberadaan Burung Maleo yang merupakan hewan endemik dari Pulau Sulawesi, khususnya di Gorontalo yang keberadaannya sekarang hampir punah. Burung Maleo sangat unik dari kebanyakan burung lainnya, mereka tidak hidup berkelompok, biasanya mereka hidup berpasangan saja. Ukurannya seperti ayam, namun dia memiliki mahkota jambul dan habitatnya di daerah yang panas serta lebih suka di daratan daripada terbang. Begitu juga dengan telurnya, ukuran telur Burung Maleo kira-kira sepanjang telapak tangan, perbandingannya 1 butir telur Burung Maleo sama dengan 5 hingga 8 kali lipat telur ayam.

Salah satu hal yang menjadi ciri khas Gorontalo yang berkaitan dengan Burung Maleo adalah Benteng Otanaha yang terbuat dari pasir, batu kapur dan telur Burung Maleo sebagai semennya. Benteng ini sangat kuat meskipun semennya terbuat dari telur. Benteng Otanaha didirikan sebagai benteng pertahanan, benteng ini dibangun oleh Raja Ilato pada tahun 1522 Masehi dengan prakarsa pemimpin-pemimpin kapal Portugis yang berhenti di pelabuhan Gorontalo.

DCIM101MEDIADJI_0003.JPG

Tak sabar ingin segera menjelajahi Kota Gorontalo, tanpa membuang waktu lama kami segera menuju ke Benteng Otanaha yang berada di atas perbukitan Dembe I, Kota Barat, Provinsi Gorontalo, Sulawesi. Dari pusat Kota Gorontalo berjarak kurang lebih 8 km. Pengunjung bisa menggunakan transportasi umum becak motor (bentor) dengan waktu kurang lebih sekitar 20 menit. Lokasi benteng bersebelahan langsung dengan Danau Limboto, satu-satunya danau yang ada di Gorontalo.

DSC_0608.jpg

Sesampainya di halaman kompleks benteng, pengunjung bisa menuju benteng dengan berjalan kaki melahap 351 anak tangga dengan kemiringan sekitar 60 derajat yang mengarah langsung ke puncak bukit. Cara lain adalah menggunakan mobil atau sepeda motor melewati jalan beraspal yang juga langsung ke puncak bukit. Terdapat area parkir yang luas di kawasan itu.

DSC_0633.jpg

Benteng Otanaha terdiri atas tiga bangunan yang masing-masing berbentuk lingkaran. Benteng itu hanya berupa dinding tanpa atap. Tinggi dinding sekitar 1 meter dengan ketebalan sekitar 50 sentimeter. Masing-masing benteng terletak terpisah. Masing-masing benteng dihubungkan oleh jalan yang dibuat dari konblok dengan jarak paling jauh sekitar 50 meter. Dari benteng di puncak bukit, pengunjung akan disuguhi dengan pemandangan sebagian wilayah Kota Gorontalo, khususnya pemukiman warga di tepian Danau Limboto.

DSC_0610.jpg

Danau Limboto sendiri merupakan muara dari beberapa sungai besar di Sulawesi antara lain Sungai Molalahu, Sungai Bionga, Sungai Bone Bolango, Sungai Daenaa, serta Sungai Alo. Danau Limboto mempunyai luas sekitar 3000 hektar. Danau Limboto juga memiliki festivalnya sendiri yang sangat seru untuk diikuti bertajuk “Festival Danau Limboto”.

Festival yang berskala cukup besar ini menampilkan berbagai macam bentuk hiburan masyarakat, antara lain seperti bersih-bersih danau, parade berbagai macam kendaraan baik darat maupun air, upacara adat kedaerahan, hingga festival kuliner yang ada di sekitaran Danau Limboto.

Karena Gorontalo juga memiliki destinasi wisata pantai yang cukup indah, maka setelah puas berkeliling di Benteng Otanaha dan waktu sudah sore, kami segera melanjutkan perjalanan ke sebuah pantai pasir putih yang indah. Pantai Leato namanya. Pantai Leato berada di Kelurahan Leato, Kecamatan Kota Selatan, hanya sekitar lima kilometer atau 15 menit perjalanan dari pusat Kota Gorontalo. Akses ke pantai ini juga cukup mudah.

DSC_0639

Pantai ini berpasir putih berkilau. Menyenangkan sekali apabila dinikmati kala sore hari sambil menyantap masakan laut khas Gorontalo. Pemandangan sore hari Pantai Leato sangat mengagumkan. Pemandangan ketika nelayan bersiap melaut bermandikan sinar keemasan matahari yang menuju garis cakrawala sungguh mempesona.

DSC_0648.jpg

Tak jauh dari Pantai Leato, terdapat sebuah pantai yang juga sangat indah dan unik. Pantai Botubarani namanya. Pantai Botubarani terletak di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Selain hamparan pasir putihnya yang indah, di pantai ini juga sering muncul Hiu Paus.

DSCN3063.jpg

Di Gorontalo, hiu paus ini disebut dengan nama lokal Munggiyango Hulalo. Dan sudah 10 tahun hiu paus terekam di perairan Gorontalo, Teluk Tomini. Namun, kemunculan hiu paus ini hanya musiman. Faktor seperti kondisi bulan di langit pun ikut berpengaruh. Bila menjelang bulan mati, hiu paus sulit untuk disaksikan. Ini karena saat-saat seperti itu merupakan musim ikan nike. Ikan-ikan kecil ini menjadi mangsa hiu paus. Hiu paus bergeser ke tempat munculnya ikan nike.

DSCN3383.jpg

Faktor oseanografi seperti arus juga mempengaruhi pergerakan hiu paus. Apalagi bila ditambah dengan air yang keruh. Bila Gorontalo dilanda hujan lebat seharian, air yang mengalir di sungai-sungai keruh. Air yang keruh ini, bermuara di Pelabuhan Gorontalo, ada kalanya terbawa arus sampai ke Botubarani yang menyebabkan kecerahan air berkurang, apalagi bila menyelam. Tanpa diketahui, tiba-tiba hiu paus sudah berada di dekat kita. Ada baiknya, bila ingin menyaksikan hiu paus dari perahu atau menyelam, lakukan pada pagi hari.

DJI_0147.jpg

Hiu paus yang kami jumpai hanya dua ekor saja hari itu. Tapi itu sudah cukup menggembirakan. Untuk berenang bersama hiu paus, pengunjung harus menjaga jarak. Tidak boleh dekat dan tidak boleh memegang binatang tersebut. Jarak aman untuk berenang dengan hiu paus adalah 4-5 meter. Mereka adalah binatang yang jinak, jika mereka mendekat, jangan membuat gerakan tiba-tiba yang menyebabkan kepanikan. Tetap tenang saja, hiu paus akan segera pergi dengan sendirinya.

DSCN3408.jpg

Setelah puas bermain dengan hiu paus di Botubarani, kita bisa mengunjungi Rumah Adat Gorontalo yang dikenal dengan Bantayo Po Boide yang terletak di depan rumah dinas Bupati Gorontalo. Rumah adat Poboide memiliki bentuk rumah panggung, bahan yang digunakan untuk membuatnya adalah kayu yang memiliki kualitas tinggi, sehingga bisa bertahan sampai saat ini.

DSCN3070.jpg

Kata Bantayo memiliki makna bangunan, sedangkan kata Po Boide sendiri mempunyai makna tempat untuk bermusyawarah. Pada zaman dahulu rumah adat Bantayo Po Boide juga digunakan sebagai istana para raja sekaligus pusat pemerintahan dan tempat berkumpulnya para tetua adat dalam membicarakan prosesi adat.

Note : Artikel ini dimuat di X-Press Air Inflight Magazine Edisi Februari-Maret-April 2019 di Rubrik Travel.

GTO-Xpress

GTO All

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s