Nyanyian Laut Lamalera

Panas menyengat ketika kaki menginjak tanah Lembata. Perjalanan melelahkan dari Jakarta hilang sudah berganti dengan semangat yang menggebu. Tujuan utama ke tanah Lembata ini adalah untuk mengikuti perburuan paus yang melegenda sejak abad ke-16 di Lamalera. Lamalera adalah salah satu Whaling Village dari dua desa pemburu paus yang dilegalkan di dunia.

DSC_0441.JPG

Jalanan berdebu juga berbatu kami tempuh. Jarak Lamalera yang berada di Kecamatan Wulondani dari Lewoleba yang merupakan ibukota Kabupaten Lembata adalah sekitar 52 km, bisa ditempuh selama 2-3 jam perjalanan darat. Lamanya perjalanan dikarenakan kondisi jalan yang tidak bagus. Jalur dari Lewoleba menuju Lamalera melewati tiga kecamatan, yaitu Nubatukan, Nagawutung, dan Wulandoni. Umumnya, jalan aspal yang kondisinya baik hanya 500 meter sampai 1 km di sejumlah titik, antara lain di Desa Labalimut, Nagawutung.

Banyak cerita dan kisah mengenai Lamalera yang saya dengar sesampainya di Lembata. Apalagi waktu kami datang ke sana bertepatan dengan diadakannya ritual Misa Arwah dan Misa Leva untuk memulai musim perburuan paus yang dilaksanakan setiap Mei-September.

Nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut dan mencari hingga ke tengah Laut Sawu untuk mendapatkan paus. Masyarakat tetap beraktifitas seperti biasa di darat sambil memperhatikan pertanda alam. Mereka menyebut itu sebagai Nyanyian Laut. Ada beberapa pertanda yang diberikan alam apabila akan muncul paus di perairan Lamalera.

Misalnya saja suara angin, ombak, burung, dan beberapa yang lain. Ketika ada warga yang melihat semburan air ke atas, itu artinya ada paus yang lewat dan seketika itu juga mereka berteriak, “Baleo”. Baleo merupakan sebutan yang diberikan warga Lamalera untuk paus. Kemudian warga sambung-menyambung meneriakkan kata “Baleo” agar semua warga mendengar.

Setelah itu, nelayan akan segera berlari menuju rumah peledang atau Naje dan mendorong peledang ke laut. Para istri dengan cekatan segera membungkus bekal makanan dan minuman untuk para suami yang akan berburu. Berburu paus bukanlah hal yang mudah. Warga Lamalera mempunyai peraturan, paus hanya bisa dikejar sampai batas maksimal sejauh pandangan mata ke arah kapel yang ada di pantai.

Jika kapel tersebut sudah tidak terlihat, maka mereka harus kembali ke kampung karena itu pertanda bahwa paus tersebut tidak diperuntukkan bagi mereka. Mereka percaya, akan datang paus yang memang diperuntukkan untuk mereka, datang dengan sendirinya tanpa mereka harus mengejar melewati batas teritori perburuan karena itu melanggar adat.

Nelayan di Lamalera selalu mengincar paus sperma atau Koteklema yang memiliki semburan tepat di atas kening. Nelayan Lamalera tidak memburu paus biru atau Kelaru yang memiliki semburan tepat di atas kepala mereka. Mereka tidak memburu paus biru karena itu merupakan perintah dari nenek moyang. Selain Koteklema, nelayan Lamalera juga memburu orca atau paus pembunuh. Dalam istilah Lamalera, paus pembunuh disebut Seguni.

Tapi sayangnya, Orca jarang sekali melintas di perairan Lamalera. Terkadang hanya setahun sekali atau bahkan sampai beberapa tahun. Orca merupakan paus dengan tingkat perlawanan paling ganas. Kekuatannya sangat besar ketika memberontak saat para nelayan menangkapnya.

Nelayan yang bertugas menghujamkan tombak atau Tempuling ke paus disebut Lamafa. Lamafa akan berdiri di ujung peledang atau perahu dayung yang digunakan untuk berburu paus. Untuk paus sperma, tombak dihujamkan tepat di belakang kepala karena di situlah bagian yang lunak. Sebaliknya, memburu Orca lebih sulit karena para nelayan Lamalera mengincar bagian ketiaknya agar tempuling bisa menusuk langsung ke jantung paus pembunuh itu.

Kalau paus sudah ditikam, perahu bisa diseret masuk ke lautan. Karena itu perjuangan para nelayan Lamalera sangatlah berat. Banyak nelayan yang gugur ketika berburu paus. Bahkan pernah ada yang diseret oleh paus sampai ke perairan Australia selama beberapa hari sampai akhirnya mereka ditemukan oleh sebuah kapal pesiar.

Untuk mengenang para nelayan yang gugur, maka setiap awal musim perburuan diadakan Misa Arwah. Misa Arwah dilaksanakan sore hari dipimpin oleh seorang pemuka agama Katholik di sebuah kapel yang berada di pinggir pantai. Warga Lamalera berkumpul menggunakan sarung adat. Suasana syahdu dan mistis terasa ketika misa dimulai. Berbaur dengan suara deru ombak, angin yang berhembus, dan matahari yang beranjak luruh di garis cakrawala.

DSC_0439.jpg

Setelah khotbah selesai, di bawah siraman bulan purnama penduduk Lamalera menyalakan lilin yang kemudian dihanyutkan ke laut lepas setelah melewati proses pemberkatan. Keesokan harinya baru dilaksanakan Misa Leva yang dimaksudkan untuk pemberkatan peledang dan meminta berkat laut agar perburuan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal dan para nelayan kembali dengan selamat.

DSC_0418.jpg

Setelah pemberkatan peledang selesai, peledang segera didorong ke laut dan para nelayan memulai perburuan. Hari pertama sesudah misa perburuan dilakukan hanya secara simbolis saja, tetapi jika ada paus yang nampak, perburuan tetap dilakukan.

DSC_0482.jpg

 

Waktu kami ke sana, beberapa jam setelah peledang diluncurkan, terdengar ramai warga meneriakkan “Baleo”. Antara kaget dan gembira yang kami rasakan. Ternyata kami beruntung mengikuti misa dan sekaligus mendapatkan paus.

DSC_0559

Ramai warga segera menuju ke Naje, bergotong royong mendorong peledang ke laut sambil berloncatan menaikinya. Saya pun ketika mendapat tawaran untuk bergabung dengan para pemburu, langsung menerimanya dengan sukacita. Tak peduli panas terik menyengat dan sepatu basah oleh air laut, saya langsung meloncat ke atas peledang. Seketika terbayang heroiknya film In The Heart of The Sea yang dibintangi oleh Chris Hemsworth.

Peledang yang digunakan sebenarnya hanyalah perahu dayung biasa yang dilengkapi layar, tetapi sekarang agar lebih mudah menarik paus ke pantai, peledang tersebut ditarik oleh perahu motor. Jadi, satu perahu motor dialokasikan untuk menarik satu peledang. Apabila paus sudah didekati, peledang akan dilepaskan oleh perahu motor untuk membiarkan Sang Lamafa beraksi. Setelah paus berhasil ditakhlukkan, perahu motor tersebut akan membantu menarik paus ke pantai.

DSC_0585.jpg

Selain perburuannya yang menegangkan, pembagian daging paus hasil buruan juga merupakan pemandangan yang menarik. Pembagian daging paus merupakan tradisi turun-temurun yang ditaati oleh semua orang Lamalera,  sehingga dipastikan tidak ada rebutan saat daging itu dipotong.

DSC__0441.jpg

Sayangnya, paus yang kami buru waktu itu terlepas. Tetapi, keesokan harinya ketika kami sudah sampai di Lewoleba, kami mendapat kabar bahwa paus yang kemarin terlepas akhirnya bisa ditangkap. Alam rupanya juga senantiasa berpihak kepada masyarakat Lamalera dengan mengantarkan paus ke lautan di hadapan mereka. Setiap tahun, paus-paus itu bermigrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik melewati laut Sawu tepat di depan pintu Pulau Lembata selama bulan Mei sampai September.

DSC_0588.jpg

Perihal perburuan pada satwa yang dilindungi itu, mantan Menteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf mengatakan saat jumpa pers Festival Adventure Indonesia 2014 di Jakarta, “Kegiatan perburuan paus dilakukan untuk seluruh rakyat Lembata, bukan secara individual. Kita tidak mengabaikan lingkungan hidup, tapi budaya juga perlu dikembangkan.”

Perburuan paus di Desa Lamalera, Lembata, merupakan bagian budaya turun temurun dan dilakukan secara tradisional. Walaupun menuai kritik dari para pemerhati lingkungan, namun budaya ini sah di mata internasional. Perburuan paus tradisional sudah diakui dunia internasional, hanya ada di Kanada dan Indonesia saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s